Tentang Rasa VI
Tentang Rasa
“Sebelum nantinya kita akan kembali berubah menjadi aku dan juga kamu, kita pernah saling bersanding dan menggenggam satu sama lain sebelum akhirnya sama-sama terdiam. Kita juga pernah saling bertahan satu sama lain dalam berbagai keadaan sebelum akhirnya kita saling melepaskan satu sama lain. Dan kita juga pernah lama berpelukan sebelum akhirnya kita memutuskan untuk saling melupakan. Sampai hari ini kita telah berjalan di rel masing-masing bersama dengan kesendirian dan tak lagi berjalan beriringan sebagaimana dahulu.”
“Engkau telah mengajarkan kepada aku hal, yaitu percaya. Percaya bahwa ketika seseorang memiliki komitmen siap untuk memiliki, ia juga harus memiliki komitmen siap untuk melepaskan dalam waktu yang bersamaan.”
“Biarkan saja dia yang sudah terlepas pergi dengan terhempas. Jangan pernah lagi mengejarnya karena ia bukanlah sebuah layang-layang yang masih bisa dikejar selama masih kau ikat dengan talinya.”
“Rindu yang kumiliki ini seharusnya tidak perlu merasakan kesakitan. Seandainya saja ada tujuan yang jelas dan terarah. Namun aku sesungguhnya masih merasa bingung akan ku antarkan kemana rindu yang menggebu ini.”
“Tenanglah saja, mereka bukanlah Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak untuk menghalangi dan menghentikan langkah kita untuk menggapai kesuksesan.”
“Menuliskan semua ide dan pendapat serta harapan-harapan saja sudah menjadi awal dari jalan kesuksesan.”
“Hidup ini memang harus imbang, jangan sampai engkau hanya fokus kepada satu hal akan tetapi melupakan hal yang lain padahal keduanya sama-sama pentingnya.”
“Bagaimana seandainya engkau yang berada pada posisiku, mencintai dalam diam. Apakah engkau mampu untuk bertahan.”
“Kapan kita bisa berkumpul bersama dan menikmati hari-hari dengan bahagia tanpa harus disibukkan oleh gadget masing-masing.”
“Engkau merupakan hal yang sangat sulit untuk kudapatkan. Harapan demi harapan senantiasa aku semogakan dalam rangkaian doa panjangku. Akan tetapi, semuanya hanya sebatas angan semata dan tidak akan pernah bisa menjadi kita di dalam kehidupan nyata.”
“Aku berjalan dengan menyusuri kenangan di sepanjang malam. Dan aku terdiam sejenak menatap ke sebuah arah persimpangan. Ada jejak bayangmu yang melekat erat di sana. Aku melihat engkau semakin nyata dalam ingatan. Inikah namanya rindu?”
“Hadirmu bak senja yang menebar ke semua keindahan dengan warna jingga yang sangat mempesona, tiba-tiba engkau pergi tanpa ada sepatah pun kalimat perpisahan kau ucapkan.”
“Meski pada akhirnya harus runtuh, sejujurnya aku juga pernah menginginkan hubungan yang utuh. Namun, pada akhirnya mata ku terbuka karena dalam pengokohan cinta, tak semudah mengedipkan mata. Yang bersarang di dalamnya adalah tentang cara menjaga rasa percaya dan saling terbuka dalam jangka waktu yang lama.”
“Sama halnya kala mencintai namun tak di cintai, hal-hal yang di kerjakan sendirian kadang akan terasa menyakitkan. Ketika seseorang telah di perjuangkan mati-matian, ternyata hasilnya hanya sebuah pengabaian.”
“Bagiku, menebas jarak penyekat diantara kita bukanlah hal yang sulit dan bisa kulakukan kapan saja. Namun, menunggu adalah keputusan terbaik yang bisa menjadi pilihanku. Meski kuakui bahwa itu berat, aku sungguh menyukainya. Penantian ini akan terus berlanjut bahkan hingga doa-doa di tengah rinduku mengalir deras dalam hembusan udara. Dan biarlah waktu yang akan menentukan pertemuan kita.”
“Kala ku tatap betapa indahnya langit biru, mulai terbayang wajahmu dengan secercah untaian rindu. Seiring berjalannya waktu, rindu itu kian memenuhi hatiku. Namun Dengan rindu, kini semakin kurasa bahwa aku dan kamu adalah satu. Rasa cinta dalam hati ini tak akan terpisah dan tak lekang pula oleh waktu”.
“Sebelum nantinya kita akan kembali berubah menjadi aku dan juga kamu, kita pernah saling bersanding dan menggenggam satu sama lain sebelum akhirnya sama-sama terdiam. Kita juga pernah saling bertahan satu sama lain dalam berbagai keadaan sebelum akhirnya kita saling melepaskan satu sama lain. Dan kita juga pernah lama berpelukan sebelum akhirnya kita memutuskan untuk saling melupakan. Sampai hari ini kita telah berjalan di rel masing-masing bersama dengan kesendirian dan tak lagi berjalan beriringan sebagaimana dahulu.”
“Engkau telah mengajarkan kepada aku hal, yaitu percaya. Percaya bahwa ketika seseorang memiliki komitmen siap untuk memiliki, ia juga harus memiliki komitmen siap untuk melepaskan dalam waktu yang bersamaan.”
“Biarkan saja dia yang sudah terlepas pergi dengan terhempas. Jangan pernah lagi mengejarnya karena ia bukanlah sebuah layang-layang yang masih bisa dikejar selama masih kau ikat dengan talinya.”
“Rindu yang kumiliki ini seharusnya tidak perlu merasakan kesakitan. Seandainya saja ada tujuan yang jelas dan terarah. Namun aku sesungguhnya masih merasa bingung akan ku antarkan kemana rindu yang menggebu ini.”
“Tenanglah saja, mereka bukanlah Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak untuk menghalangi dan menghentikan langkah kita untuk menggapai kesuksesan.”
“Menuliskan semua ide dan pendapat serta harapan-harapan saja sudah menjadi awal dari jalan kesuksesan.”
“Hidup ini memang harus imbang, jangan sampai engkau hanya fokus kepada satu hal akan tetapi melupakan hal yang lain padahal keduanya sama-sama pentingnya.”
“Bagaimana seandainya engkau yang berada pada posisiku, mencintai dalam diam. Apakah engkau mampu untuk bertahan.”
“Kapan kita bisa berkumpul bersama dan menikmati hari-hari dengan bahagia tanpa harus disibukkan oleh gadget masing-masing.”
“Engkau merupakan hal yang sangat sulit untuk kudapatkan. Harapan demi harapan senantiasa aku semogakan dalam rangkaian doa panjangku. Akan tetapi, semuanya hanya sebatas angan semata dan tidak akan pernah bisa menjadi kita di dalam kehidupan nyata.”
“Aku berjalan dengan menyusuri kenangan di sepanjang malam. Dan aku terdiam sejenak menatap ke sebuah arah persimpangan. Ada jejak bayangmu yang melekat erat di sana. Aku melihat engkau semakin nyata dalam ingatan. Inikah namanya rindu?”
“Hadirmu bak senja yang menebar ke semua keindahan dengan warna jingga yang sangat mempesona, tiba-tiba engkau pergi tanpa ada sepatah pun kalimat perpisahan kau ucapkan.”
“Meski pada akhirnya harus runtuh, sejujurnya aku juga pernah menginginkan hubungan yang utuh. Namun, pada akhirnya mata ku terbuka karena dalam pengokohan cinta, tak semudah mengedipkan mata. Yang bersarang di dalamnya adalah tentang cara menjaga rasa percaya dan saling terbuka dalam jangka waktu yang lama.”
“Sama halnya kala mencintai namun tak di cintai, hal-hal yang di kerjakan sendirian kadang akan terasa menyakitkan. Ketika seseorang telah di perjuangkan mati-matian, ternyata hasilnya hanya sebuah pengabaian.”
“Bagiku, menebas jarak penyekat diantara kita bukanlah hal yang sulit dan bisa kulakukan kapan saja. Namun, menunggu adalah keputusan terbaik yang bisa menjadi pilihanku. Meski kuakui bahwa itu berat, aku sungguh menyukainya. Penantian ini akan terus berlanjut bahkan hingga doa-doa di tengah rinduku mengalir deras dalam hembusan udara. Dan biarlah waktu yang akan menentukan pertemuan kita.”
“Kala ku tatap betapa indahnya langit biru, mulai terbayang wajahmu dengan secercah untaian rindu. Seiring berjalannya waktu, rindu itu kian memenuhi hatiku. Namun Dengan rindu, kini semakin kurasa bahwa aku dan kamu adalah satu. Rasa cinta dalam hati ini tak akan terpisah dan tak lekang pula oleh waktu”.
Comments
Post a Comment